Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label bergumam

bi·ru

  Dunia nyata tak pernah heroik, tak pernah memenangkan pahlawan, tak pernah mengalahkan penjahat. Masing masing bernafas dengan keberuntungannya, kesialannya dan kepasrahannya sendiri. Jika saja legenda diisi dengan kejujuran, sejarah tidak ramai dengan kebohongan dan tirai kemunafikan. Hidup bisa sedikit lebih optimis

fi·nal·i·ty

Everything will end, not only my life but also this Earth, this galaxy, and perhaps even this universe. Everything will become a dark and silent void. The path towards that inevitable end is still distant, yet eerily close. Once my life is over, I will be oblivious to anything else, reduced to a lifeless body destined to decompose and vanish, leaving no trace behind. I often find myself wondering why I exist in the first place. I understand the 'how' of my existence but remain oblivious to the 'why.' Perhaps I am not significant enough to warrant a purpose. I am merely a product of countless random chances, fortunate enough to possess the capacity for thought. If I had never existed, nothing would have changed, and the world would be no different. That's the extent of my insignificance. Fear has always gripped me—fear of eternal nothingness, fear of silence. Even if I were granted a chance to have a purpose, I question whether I would possess the strength to pursue ...

acceptance aka ac·cept·ance

  today I finally reach the age of 30. ten years ago, my naive and underdeveloped brain thought that I am gonna achieve greatness, that I am the main character, the chosen one. what a memory that is. I know that me. right now is just an NPC or extras or whatever somebody with no insignificance is called. I live a mediocre life and now I am not even sure if I still have ambition anymore. I wake up every day knowing that my day is gonna be mundane. and I didn't know when was the last time I felt excited. TLDR. Me and my life are boring. I am just a programmer with the bare minimum skill. I am gloomy and cowardly, hate working hard, and even though I know I should fight. in the end, I am just running away. and the sad part, I am okay with that. sigh. even I understand that my life is not *that* miserable. but my head keeps telling me that I am not worth it. I keep kicking grass in frustration. why am I like this. I wish I can accept this, I wish I have acceptance in my life. but my he...

Halo

Halo apa kabar? Masih sakit hati? masih menyimpan dendam?  Masih menangis setiap malam? Masih basah lukanya? Masih menyalahkan diri sendiri dan keadaan? Masih menyesal? Masih terasa berat hatinya? Masih menyimpan semua kekecewaan? Masih. sih.

Padahal hidup itu...

Aku melihat keluar jendela yang sedang diguyur gerimis. Menghitung pencapaian yang sama sekali tak bersisa. Menggumamkan tak terhingganya rasa bersalah dan rasa kehilangan. Semua demi hidup yang ternyata sia-sia. Sayang sekali kehidupanku yang tak kuminta ini bukan hanya milikku. Ada tanggung jawab disetiap nafas yang terhembus, ada yang mengharapkan detak jantungku terus berdebar selama mungkin.  Mungkin semua ini akan lebih mudah kujalani jika hidup sedikit lebih adil. Tapi mungkin juga karena ketidakadilan hiduplah aku masih menapak diatas bumi. Entah mauku apa, pikiranku sendiri penuh dengan paradoks. Rasa sedih menjadi keseharian, kadang pekat kadang ringan.  Tapi selalu ada. Ingin bertanya kenapa, tapi aku takut akan jawaban yang didapat.  Bukankah hidup itu harusnya menyenangkan?

My Life

I feel like this life is sucked balls. In my childhood, I didn't have much. We live in a small cottage inside the Elementary school complex because my dad is the guardian for the place. I don't have many toys and often always play in a friend's house because I am so awed by what they have. When the young adult me comes, I work in Jakarta for like six years. and still, feel like I didn't earn anything. I have invested very poorly in a house that too far from anywhere. and I sold it with a loss when the business I work with went under. after 6 years of working, I didn't even have life savings. And then, I work in Bandung, everything seems totally fine. until some dipshit of a person ruins my life. betrayed me and cost me not only financially but also mentally. I have tremendous debt and to make it worse, my dad is sick and needs to be operated quickly. Somehow I got through it. my dad is okay now. But right now. I feel like I have very little control over my life. I a...

Menuju angkasa

Saat ini angkasa luar terasa lebih dekat. Silahkan google tentang SpaceX dan Inspiration4, di zaman modern sekarang, bukan hanya NASA yang memiliki tujuan keluar bumi, menjadikan perjalanan antar galaksi terasa lebih dekat dan sedikit lagi ada dalam genggaman.  Entah itu seratus atau dua ratus tahun lagi manusia bisa berjalan-jalan keluar angkasa mengunjungi bulan atau planet lain secara komersil, dua abad hanyalah setitik waktu dalam 2.5juta tahun sejak manusia pertama kali menggunakan perkakas batu. Sayang sekali saya lahir di waktu yang terlambat untuk menjelajahi bumi untuk pertama kali, dan terlalu cepat untuk umat manusia bisa menyusuri langit. Kalau saja ada cara untuk memperpanjang umur agar bisa merasakan jaman dimana film sci fi menjadi keseharian, apakah saya akan tetap mengeluh karena perjalanan ke Mars delay satu hari, seperti saya yang mengeluh ketika naik Lion Air yang delay 3 jam.

Rest

I wish one day, far in the future, I can be like Thanos at the end of Infinity War movie.  Take a satisfying rest after all the hard work.  Feeling relieved to know a job well done.

I am useless

The feeling of unwantedness. The feeling of uselessness.  The longing feeling of being wanted, being useful. It's all gone.  Everyone is alone in the end. I am alone.

Jarak

Jauh tidaknya dua hati, tidak ditentukan dengan jarak ruang maupun waktu. Bisa jadi terpisah ribuan kilometer. Bisa jadi terpisah karena masa lalu. Rindu akan membuat itu semua obsolete . Semoga saja.

Padahal

Pagi bergerimis membuatku tersadar akan kenangan. Ingatan masa lampau begitu jelas terbayang seperti luka baru yang perih. Tentang bagaimana aku berusaha menjauh dan menghindar. Ketakutanku di masa lampau untuk mendekatimu masih sangat terasa. Tidak setetespun rasa itu berkurang meski dekade telah terlewati. Menyia-nyiakanmu adalah dosa yang kujalani setiap waktu. Dulu aku begitu tidak acuh, begitu tidak peka dan begitu tidak ingin. Entah kenapa aku memberi makan kepengecutan sehingga tumbuh subur meninggalkan rasa lainnya. Padahal... Menjadi kenanganmu merupakan bahagiaku Padahal... Tidak ada yang lebih berharga bagiku selain kamu

The dread of not existing

Almost every night I keep reminded that I am going to be dead. The realization that I am going to be nonexistent is a dreadful thought.  The thought of everything that I have been feeling, what I have worked for -literally- life is gonna be eternal slumber in the end. Make me think everything not gonna matter. When I think about it, it really is a scary thought. It makes me panic and making it hard to sleep. I don't know if this normal or not. But it (the thought) is coming to me every night.

Isn't she georgeous

  Her name is Tofu and she's been with me for almost half a year 😍

Hujan

  Hari sabtu kemarin saya menelusuri jalanan Subang - Bandung di sore hari. Bandung adalah tempat saya bekerja 3 tahun terakhir, dan Subang adalah rumah tempat saya pulang. Sekitar baru setengah perjalanan, hujan yang sangat lebat turun. Waktu sudah sore sekali dan mau magrib, saya malas untuk menunggu dipinggir jalan. Jika hujannya lama, saya akan kemalaman sampai di Bandung. Sayapun minggir sebentar untuk memakai jas hujan lalu melanjutkan perjalanan. Tidak ada kejadian apa-apa di jalan, selain melaju dengan sangat pelan karena jalan yang menanjak, ditambah hujan sangat lebat yang membuat saya terpaksa hati-hati sekali karena jarak pandang terbatas dan angin yang sangat kencang. Sesampainya di daerah Punclut hujan sudah mereda. Tapi saya kaget sekali, jalanan punclut yang kecil itu isinya mobil semua. Macet parah sekali, hampir semua jenis mobil dan plat nomor hadir di sini. Saya jadi bingung, ditengah wabah yang penularannya kayak influenza gini, orang-orang sepertinya lebih mem...

Yang saya sesali

Bapak pernah sakit parah. Dan kerabat juga saudara dekat selalu merekomendasikan pengobatan alternatif dan doa. Membuat bapak yakin dan keras kepala untuk selalu berobat ke tokoh agama dan menginap di tempat terapi. Padahal ya ternyata biayanya malah sama mahalnya dengan rumah sakit. Di tempat pengobatan alternatif terakhir, harus mengeluarkan sekitar 5 jutaan. Sembuh juga nggak. Apa yang bapak dapatkan dari rekomendasi kerabat-kerabatnya hanyalah harapan palsu. Bapak bilang kalau si X berobat sebulan disitu sembuh, si Y seminggu berobat disana sembuh. Tapi ya itu semua hanyalah katanya. Saya kesal. Sampai pada akhirnya saya paksa bapak untuk berobat ke Rumah Sakit Sentosa Bandung. Di sana, bapak di X-Ray dan CT Scan, terlihat kalau akhirnya ternyata tulang punggung bawah bapak remuk karena kecelakaan setahun sebelumnya. Dan hanya bisa dioperasi untuk penyembuhannya.  Saya bukannya mau merendahkan atau tidak percaya pengobatan alternatif. Tapi saya memang tidak percaya kalau jamu a...